Jumat, 16 Januari 2009

Kunjungan Kepala BNP2TKI di Jepang: Para Perawat Indonesia Diperlakukan Baik



(Jakarta, BNP2TKI, 15/12) Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat pada Selasa-Jumat, 9-12 Desember 2008 melakukan kunjungan ke Jepang, terkait peningkatan kerjasama Indonesia-Jepang dalam penempatan TKI formal program G to G (government to government), untuk perawat (nurse) dan pengasuh orang tua jompo (careworkers) Indonesia di Jepang.

Selama di Jepang Jumhur disertai Deputi Kepala BNP2TKI Bidang Penempatan Ade Adam Noch, Deputi Bidang Promosi dan Kerjasama Luar Negeri Ramly Sa'ud, Direktur Kawasan Asia Pasifik dan Amerika Haposan Saragih, Direktur Penempatan Pemerintah Wayan Mandi, dua anggota Komisi IX DPR RI Maryamah Besus dan Kasmawati Basalamah serta Konsultan Media BNP2TKI Mahmud F Rakasima.

Rombongan Kepala BNP2TKI mengunjungi berbagai panti jompo di Jepang dan rumah sakit bagi pasien usia lanjut (demensia), di antaranya di Chiba dan Tokyo sekaligus ke pusat latihan bahasa Jepang untuk para perawat serta pengasuh orang tua jompo Indonesia yang diselenggarakan AOTS (The Association for Overseas Technical Scholarship/lembaga penjamin beasiswa bagi para perawat dan pengasuh jompo asal Indonesia)--baik di Tokyo, Yokohama, maupun Osaka.

Kepala BNP2TKI juga mengadakan sejumlah pertemuan di antaranya Kementerian Tenaga Kerja, Kesehatan dan Sosial Jepang--melalui Assisten Direktur Jenderal Hubungan Luar Tamoaki Katsuda--, Chairman Board of Directors/Ketua Dewan Direktur JICWELS (Japan International Corporation for Welfare Services--lembaga bentukan pemerintah Jepang yang membawahi program kerjasama penempatan perawat dan pengasuh orangtua jompo asal Indonesia di Jepang, Tatsuhiko Sakamoto, serta President of AOTS Kazuo Kaneko.

Termasuk bertemu Kenji Kuroki, Chairman of JIAEC (Japan Indonesia Association for Economy Cooperation--lembaga swasta Jepang yang dibentuk dengan ijin Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja, Kesehatan dan Sosial Jepang, untuk merekrut siswa pekerja magang asal Indonesia di berbagai perusahaan di Jepang, tanpa program G to G.

Puas Karena Perawat Diperlakukan Baik

Kepala BNP2TKI mengaku puas atas kunjungan tersebut, karena para perawat dan careworkers asal Indonesia yang kini ditempatkan di Jepang diterima sangat baik oleh masyarakat maupun pemerintah Jepang sendiri.

Para perawat dan careworkers Indonesia dipandang selama mengikuti program latihan bahasa Jepang--yang diselenggarakan AOTS---selalu berperilaku baik (sopan), rajin dan berkemauan tinggi, mampu menyesuaikan dengan budaya Jepang---baik disiplin maupun sikapnya yang dapat menghargai masyarakat Jepang--, serta tergolong peserta program yang dapat berkembang pada kelas-kelas latihan.

Para perawat dan careworkers Indonesia yang berada di jepang berjumlah 208 orang (104 perawat/nurse, 104 careworkers). Mereka ditempatkan di negara Sakura tersebut oleh BNP2TKI pada awal Agustus 2008 (sebagai realisasi kesepakatan pemerintah Jepang-Indonesia di Jakarta, Agustus 2007 melalui Japan-Indonesia Partnership/JIPA untuk menempatkan 1000 perawat Indonesia di Jepang dengan proporsi 600 careworkers serta 400 perawat/nurse).

Sebelum bekerja, para perawat serta careworkers mengikuti program latihan bahasa Jepang selama enam bulan (Agustus 2008-Februari 2009) di pusat-pusat training AOTS, yang tersebar di beberapa kota utama Jepang.

Pada Februari 2009, para perawat dan careworkers itu akan mengikuti ujian negara. Jika lulus, nereka dapat langsung disalurkan bekerja di berbagai rumahsakit lansia (sebagai perawat) ataupun panti jompo Jepang (sebagai pengasuh orang tua lanjut usia), dengan masa kontrak tiga tahun dan gaji sama warga Jepang yang melakukan pekerjaan serupa, yaitu setara Rp 20 juta atau lebih untuk gaji perawat (nurse), dan setara Rp 18 atau Rp 19 untuk gaji careworkers. Namun sebaliknya, jika tidak berhasil lulus, mereka akan kembali mengikuti program latihan di AOTS Jepang itu.

Jumhur menambahkan, dalam beberapa pertemuannya dengan pihak pengelola panti jompo maupun pemerintah Jepang, yaitu Kementerian Tenaga Kerja, Kesehatan dan Sosial---bahkan saat bertemu Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, Hirohiko Nakamura, umumnya menyatakan kebutuhan pada perawat Indonesia masih sangat banyak, mengingat tingkat usia lansia warga Jepang yang memerlukan bantuan perawat dan careworkers juga semakin besar. Saat ini, sedikitnya 25 persen warga Jepang dengan usia lanjut yang hidupnya bergantung pada perawat.

Dikatakan Jumhur, pada 2009 BNP2TKI akan mempersiapkan tahap berikut penempatan para perawat dan careworkers ke Jepang sekitar 792---dari sisa kuota 1000 yang disepakati. (mfr)

Sumber : www.bnp2tki.go.id


Gaji Perawat RI di Jepang Rp 17,9 Juta


Jakarta, (KARIR-UP)- Tenaga kerja Indonesia atau TKI dengan keahlian khusus semakin terbuka. Pemerintah Jepang bersedia menerima 400 perawat dan 600 pengasuh jompo atau lansia dari Indonesia sampai tahun 2009 dengan gaji hingga Rp. 17,9 Juta/ bulan dan dikontrak untuk tiga tahun.

”Ke depan, kami berharap lebih besar lagi kuota yang diberikan dan bisa diperluas untuk TKI sektor pariwisata dan perhotelan,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno di Jakarta, Senin (19/5) siang, seusai penandatanganan nota kesepahaman penempatan perawat dan pengasuh jompo RI ke Jepang antara Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohammad Jumhur Hidayat dan Managing Director The Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS) Takashi Tsunoda.

Acara penandatanganan itu juga disaksikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Minister Counsellor Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Arai.. Adapun gaji pengasuh sedikitnya 175.000 yen, atau sekitar Rp 15,6 juta per bulan, dan dikontrak empat tahun. Mereka mulai bekerja pada akhir bulan Juli.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk bekerja di Jepang minimal lulusan diploma III Akademi Perawat atau Strata 1 Fakultas Ilmu Keperawatan universitas di Indonesia dan telah bekerja minimal dua tahun. Demikian juga untuk pengasuh jompo harus lulusan Diploma III atau lebih tinggi dari lembaga pendidikan di Indonesia dan memiliki sertifikat kompetensi pengasuh.

Mennakertrans mengatakan, kerja sama ini realisasi dari kemitraan pembangunan ekonomi Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement. Perjanjian ini menindaklanjuti kesepakatan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam pertemuan di Tokyo, Jepang, 28 November 2006 lalu. “Ada 770 sekolah keperawatan di Indonesia yang setiap tahun meluluskan 25.000 orang,”tambahnya

Arai, yang mewakili Kementerian Kesehatan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Jepang, menambahkan, penempatan perawat dan pengasuh Indonesia ke Jepang merupakan yang pertama kali. Tingkat permintaan perawat dan pengasuh asal Indonesia di Jepang tinggi. (rahmat saepulloh/ kcm)

Sumber :http://www.karir-up.com/2008/05/gaji-perawat-ri-di-jepang-rp-179-juta/